Artikel

Memahami IMT (Indeks Massa Tubuh): Cara Hitung, Kategori Kemenkes, dan Keterbatasannya

Oleh Ridwan · Terbit 24 September 2026 · 4 menit baca

Kalau kamu pernah ikut medical check-up, posbindu, atau sekadar menimbang badan di puskesmas, besar kemungkinan petugas menghitung satu angka: IMT atau Indeks Massa Tubuh. Dalam bahasa Inggris angka ini disebut Body Mass Index (BMI). Angka ini sederhana, tapi sering disalahpahami. Ada yang panik karena IMT-nya “gemuk” padahal rajin angkat beban. Ada juga yang merasa aman karena IMT normal padahal perutnya makin maju. Yuk, kita bahas pelan-pelan.

Apa itu IMT?

IMT adalah perbandingan berat badan dengan kuadrat tinggi badan. Rumusnya:

IMT = berat badan (kg) ÷ [tinggi badan (m)]²

Angka ini dipakai sebagai alat skrining, yaitu cara cepat untuk menandai siapa yang mungkin berisiko karena berat badannya kurang atau berlebih. IMT bukan alat diagnosis. Kelebihannya, IMT hanya butuh timbangan dan alat ukur tinggi, sehingga bisa dipakai di mana saja.

Contoh perhitungan

Ambil contoh orang dengan berat 70 kg dan tinggi 170 cm.

  1. Ubah tinggi ke meter: 170 cm = 1,70 m.
  2. Kuadratkan: 1,70 × 1,70 = 2,89.
  3. Bagi berat dengan hasil tadi: 70 ÷ 2,89 = 24,2.

IMT 24,2 termasuk kategori Normal menurut Kemenkes. Dari rumus yang sama, rentang berat badan normal untuk tinggi 170 cm adalah 18,5 × 2,89 sampai 25 × 2,89, yaitu sekitar 53,5–72,3 kg. Kamu bisa langsung mengecek angkamu sendiri dengan Kalkulator IMT.

Tabel kategori IMT menurut Kemenkes RI

Indonesia memakai ambang batas yang sedikit berbeda dari tabel WHO untuk populasi global. Klasifikasi yang dipublikasikan Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes untuk orang dewasa adalah:

IMTKategori
< 17,0Kurus (kekurangan berat badan tingkat berat)
17,0 – < 18,5Kurus (kekurangan berat badan tingkat ringan)
18,5 – 25,0Normal
> 25,0 – 27,0Gemuk (kelebihan berat badan tingkat ringan)
> 27,0Obesitas (kelebihan berat badan tingkat berat)

Kenapa berbeda dengan WHO global yang memakai 25 untuk overweight dan 30 untuk obesitas? Konsultasi pakar WHO tahun 2004 tentang populasi Asia menemukan bahwa banyak orang Asia sudah memiliki risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung yang meningkat pada IMT lebih rendah daripada populasi Eropa. Karena itu, sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, memakai batas yang lebih ketat.

Keterbatasan IMT yang perlu kamu tahu

IMT itu praktis, tapi punya beberapa “titik buta”.

1. Tidak membedakan otot dan lemak

Otot lebih padat daripada lemak. Orang yang rutin latihan beban bisa punya IMT 27 tapi persentase lemak tubuhnya rendah. Sebaliknya, orang yang jarang bergerak bisa punya IMT normal dengan massa otot sedikit dan lemak cukup banyak. Kondisi ini kadang disebut normal weight obesity.

2. Tidak menunjukkan lokasi lemak

Lemak yang menumpuk di perut (lemak viseral) lebih erat kaitannya dengan diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung dibanding lemak di paha atau lengan. IMT tidak bisa membedakannya. Karena itu Kemenkes juga menganjurkan pengukuran lingkar perut. Batas yang dipakai adalah 90 cm untuk laki-laki dan 80 cm untuk perempuan. Lingkar perut di atas angka itu menandakan obesitas sentral, meskipun IMT-nya normal.

3. Tidak untuk semua kelompok

Tabel di atas berlaku untuk orang dewasa. Untuk anak dan remaja, status gizi dinilai dengan grafik pertumbuhan sesuai usia dan jenis kelamin (IMT menurut umur), bukan tabel dewasa. Ibu hamil juga tidak dinilai dengan IMT saat hamil. Yang dipakai adalah IMT sebelum hamil untuk menentukan target kenaikan berat badan. Pada lansia, penurunan massa otot membuat IMT perlu ditafsirkan lebih hati-hati.

Jadi, IMT masih berguna?

Masih, asal dipakai dengan tepat. Anggap IMT sebagai lampu indikator. Kalau hasilnya di luar rentang normal, itu tanda untuk melihat lebih dalam, bukan vonis. Beberapa langkah lanjutan yang masuk akal:

  • Ukur lingkar perut dengan pita ukur, sejajar pusar, di akhir embusan napas normal.
  • Perhatikan tren, bukan satu kali ukur. Berat badan yang terus naik atau turun tanpa sebab jelas lebih penting untuk diperhatikan daripada satu angka.
  • Cek tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala, terutama bila IMT dan lingkar perut di atas batas.
  • Bila ingin mengatur berat badan, mulailah dengan memperkirakan kebutuhan energi harian lewat Kalkulator Kalori Harian, lalu baca penjelasan BMR dan TDEE.

Hubungan IMT dengan obat

Dari sisi farmasi, berat badan juga penting karena dosis beberapa obat dihitung per kilogram berat badan. Pada orang dengan obesitas, tenaga kesehatan kadang memakai berat badan ideal atau berat badan yang disesuaikan, bukan berat aktual. Tujuannya agar dosis obat tertentu tidak berlebihan. Contohnya bisa kamu lihat pada perhitungan fungsi ginjal di artikel klirens kreatinin.

Ringkasan

  • IMT = berat (kg) ÷ tinggi (m)². Contoh: 70 kg dan 170 cm menghasilkan IMT 24,2 (Normal).
  • Batas Kemenkes: normal 18,5–25,0, gemuk > 25,0–27,0, obesitas > 27,0.
  • Lengkapi dengan lingkar perut (≤ 90 cm untuk laki-laki, ≤ 80 cm untuk perempuan).
  • Tabel ini tidak berlaku untuk anak, remaja, dan ibu hamil.

Sumber dan rujukan

  1. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat P2PTM: Klasifikasi Obesitas dan Tabel Batas Ambang IMT
  2. WHO Expert Consultation (2004). Appropriate body-mass index for Asian populations and its implications for policy and intervention strategies. The Lancet, 363(9403): 157–163.
  3. World Health Organization: Obesity and overweight (fact sheet)

Tentang penulis. Ridwan adalah lulusan D3 dan S1 Farmasi yang bekerja di perusahaan digital healthcare di Jakarta. Selengkapnya.